Senin, 02 Januari 2012

Nenekku yang ceria dan gemar bercerita (4)

Bagian 4 (terakhir)
Saat aku tidur di rumah nenekku, kami sempat bercengkrama. Aku pun bertanya kepada nenek,
Aku : nek, kalo aku udah kerja dan punya duit, nenek pengen dibeliin baju atau diajak ke rumah makan?
Nenek : yaa apa aja lah nduk, terserah kamu
Aku : pengennya sih ngajak makan nek, tapi nenek pengen makan apa?
Nenek : nenek lebih suka makan berkuah nduk, soto aja nenek suka
Aku tertegun mendengar jawaban nenek. Aku akan berusaha mewujudkannya nek. Meskipun hanya soto, yang mungkin harganya tidak seberapa dan aku bisa membelikannya dengan sisa uang bulananku, tapi aku ingin membelikan nenek dengan uang hasil kerjaku sendiri. Semoga aku bisa melakukannya. Amin. Selain itu, aku juga sempat curhat kepada nenek. Tentang kuliahku, teman-temanku, mantan kekasihku, dan tentang laki-laki yang tengah dekat denganku. Semua aku ceritakan kepada nenekku. Sampai akhirnya nenekku berkata “Semoga nenek bisa melihatmu menikah ya nduk”. Amin ya Allah, itu adalah hal yang sangat aku harapkan nek. Bahkan lebih dari itu, aku ingin nenek bisa melihat aku menikah, melihatku punya anak, punya cucu, bahkan punya cicit. Amin.
Untuk nenek tercintaku, nenek harus selalu sehat walafiat, harus selalu kuat, harus selalu ceria. Aku pengen melihat nenek yang dulu, yang selalu ceria dan gemar bercerita. Semoga Allah memberikan kesembuhan dan kekuatan ke nenek, dan juga umur yang panjang, agar nenek bisa selalu ada untukku. Aku ingin membalas semua kebaikan nenek, meski tidak mungkin aku dapat membalasnya karena pemberian nenek jauh lebih besar dan tak terbalaskan. Meski demikian, aku akan berusaha memberi yang terbaik untuk nenek. Aku sayang nenek. Sayang selalu.

-TAMAT -

Nenekku yang ceria dan gemar bercerita (3)

Bagian 3
Saat aku sudah menginjak tahun sekarang, tahun dimana aku meyelesaikan 2 semester terakhir kuliahku, nenekku mengalami banyak perubahan. Saat aku pulang kerumah dalam rangka libur kuliah, kudapati  nenek tengah sakit katarak dan telah dioperasi. Badannya pun sangat lemah. Beliau tinggal dirumahku dan tidur di kamarku. Aku, yang biasanya pulang disambut dengan ciuman dari nenek, sekarang tidak kurasa. Aku bertanya pada nenek kenapa beliau enggan menciumku, nenek menjawab bahwa beliau malu dan risih jika harus menciumku. Nenekku yang tengah sakit katarak, dilarang mencuci wajahnya selama 40 hari oleh dokter dan hal itulah yang membuat nenekku enggan menciumku. Namun, aku tidak peduli. Bagaimanapun beliau adalah nenekku. Aku pun tetap meminta ciuman dari nenek. Beliau mencium pipi kananku, pipi kiriku, dan jidatku. Aku pun gantian menciumnya. Rasanya hangat dan aku sangat menyukainya.
Suatu hari, aku beserta ayah dan ibu mengantar nenek kontrol sakit katarak ke dokter. Kami sempat menunaikan ibadah sholat magrib terlebih dahulu. Saat itu, nenekku sangat lemah, berjalan pun beliau tidak sekuat dulu, aku pun memegang tangannya dan menuntunnya. Dalam masjid itu, terdapat tangga, yang membuat nenekku sangat berat dan membutuhkan banyak tenaga untuk melewatinya. Nenekku tak mampu jalan sendiri, beliau harus aku tuntun, bukan saja itu, setiap melewati tangga, tangan kirinya memegang tanganku, sedang tangan kanannya harus memegang pegangan tangga. Sungguh miris melihatnya. Saat sholat pun, nenekku tak mampu untuk berdiri. Beliau sholat dengan duduk. Aku sungguh tidak tega melihatnya. Nenekku yang dulu sangat kuat, penuh keceriaan, gemar bercerita, sekarang sangat lemah dan renta, tidak sekuat setahun yang lalu, tidak seceria setahun yang lalu. Aku sedih, sangat sedih. Aku menangis, sedih, berdoa agar nenekku segera diberi kekuatan dan kesembuhan. Namun, tangisku aku sembunyikan dari nenekku. Aku akan berusaha selalu tegar di depan nenekku. Aku ingin melihat nenek sehat, kuat, ceria.
Saat sampai ditempat control, aku bertanya ke nenekku apakah beliau bangga memiliki cucu seperti aku. Beliau menjawab sangat bangga memilikiku, tak peduli bagaimana fisikku dan sifatku, beliau sangat sayang padaku dan beliau juga tau bahwa aku sayang padanya.

bersambung...

Nenekku yang ceria dan gemar bercerita (2)

Bagian 2
Menginjak SMA, aku ngekost karena sekolahku cukup jauh dari rumahku. Saat aku kelas 1 SMA, kakekku meninggal dunia. Nenek pun tinggal sebatang kara di rumah besarnya. Setiap akhir pekan aku pulang kerumah dan tidur di rumah nenek untuk menemaninya. Walaupun nenekku sangat kesepian, beliau selalu kuat dan semangat dalam menjalani hidup. Beliau selalu ceria, dan gemar bercerita. Aku sangat suka diajak bercerita. Saat aku bosan dengan keadaan rumahku, aku selalu pergi ke rumah nenek. Aku sangat merasa terhibur bersama nenek. Nenekku selalu bisa membuatku tertawa, mengiburku saat aku sedih. Masakannya yang sangat enak, membuatku semakin gemar main ke rumah nenek. Saat aku sakit, nenekku mengerokiku, memberiku obat, membuatkanku bubur. Beliau sangat perhatian padaku dan aku sangat sayang padanya.
Saat aku kuliah, setiap pulang ke rumah aku pasti main ke rumah nenek dan beberapa hari dalam liburku aku tidur di rumah nenek. Aku sering bercerita kepada nenek, tentang kuliahku, teman-temanku, pengalamanku, bahkan tentang kekasihku. Bersama nenekku, aku sangat nyaman, aku nyaman ingin bercerita apa saja, karena nenekku selalu meresponku dengan baik. Mungkin bisa dikatakan aku lebih sering bercerita kepada nenekku dibanding ayah ibuku. Ayah ibuku hanya mengetahui sekelumit ceritaku, tetapi nenekku sangat banyak mengetahui ceritaku. Aku bahagia punya nenekku.

bersambung...

Nenekku yang ceria dan gemar bercerita (1)

Ada 4 bagian dalam cerita ini. Bagian 1, bagian 2, bagian 3, dan bagian 4. Semoga bermanfaat.
Bagian 1
Nenekku adalah nenek terbaik yang pernah aku temui sepanjang  hidupku.
Namaku Daisy, aku telah menginjak umur ke-20 tahun. Sekarang aku kuliah di perguruan tinggi kedinasan di Jakarta, tepatnya aku sudah menginjak tahun terakhir, sebentar lagi akan lulus dan diwisuda.
Aku ingin menceritakan tentang nenekku. Mengapa? Karena beliau adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku, disamping kedua orangtuaku tentunya.
Aku lahir di sebuah rumah kecil sangat sederhana, di tengah keluarga yang bisa dibilang sangat sederhana. Aku tidak dilahirkan di rumah sakit karena melihat kondisi ekonomi keluargaku saat itu yang masih serba minim. Ibuku adalah seorang guru pegawai negeri yang pada saat itu gajinya hanya Rp 80.000 per bulan. Sedangkan ayahku adalah seorang guru swasta yang gajinya sangat sangat jauh dibanding ibuku. Saat itu, ayah dan ibu hidup dengan penuh kesederhanaan. Maka, untuk melahirkanku di rumah sakit, mereka tak akan mampu. Dengan dibantu nenekku, aku pun lahir dari rahim ibu dengan tangisan mungil yang membuat ibu, ayah, dan nenekku haru bahagia.
Sejak saat masih bayi tersebut, nenekku merawatku, sedang ayah dan ibuku membanting tulang untuk menghidupiku. Ya, aku memang berpisah dari orangtuaku, aku memang saat itu haus akan kasih sayang ayah ibuku. Namun, hal itu terobati dengan kasih sayang yang diberikan oleh nenekku. Nenekku dengan sabar merawatku, membuatkanku susu, memandikanku, mengganti popokku, dsb.
Suatu hari, terdapat acara pernikahan tetanggaku. Nenekku pun membawaku kesana dengan digendong menggunakan selendang yang dibalutkan ke badannya. Disana, aku merengek, menangis, membuat nenekku repot. Bahkan, yang paling merepotkan adalah aku sempat buang air besar, sehingga nenekku pun harus mengurusiku, mengganti popokku, dan meninggalkan acara. Sungguh, merepotkan sekali aku.
Nenekku tinggal berdua dengan kakekku, semua anak-anaknya telah berkeluarga dan tinggal di berbagai daerah. Kecuali orangtuaku, yang tinggal tidak jauh dari rumah nenekku. Sewaktu SD, setelah pulang sekolah aku selalu pulang ke rumah nenekku sebab rumahku kosong, ditinggal oleh orangtuaku yang bekerja membanting tulang. Nenekku sangat perhatian, yang paling aku ingat adalah sewaktu nenek mengajariku matematika, beliau mengajariku menghitung matematika dengan jari. Setiap orantuaku marah padaku, aku pun selalu cerita ke nenekku. Beliau selalu ada untukku dan kami berdua selalu bergantian cium pipi, meski di depan umum sekalipun.

bersambung...

Sabtu, 24 Desember 2011

Let It Flow

saat diri ini lemah..
kuatkan aku..
saat diri ini gundah..
hibur aku..
saat diri ini sepi..
temani aku..

nyaman saat berada disisi..
bercengkrama penuh canda dan tawa..
temani kesendiriaan yang melanda..
mengisi kesunyian jiwa..
mengobati hati yang lara..


LET IT FLOW ...
Pada akhirnya kelak, hanya akan ada satu fakta.. 
:)

Minggu, 04 Desember 2011

Quote of The Day

Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, 
tetapi Tuhan memberikan apa yang terbaik buat kita :)

Quote of The Day

kadang untuk melompat beberapa 
meter itu kita harus mundur beberapa inchi untuk berancang-ancang